Senin, 18 Maret 2013

RITUAL KEBATINAN MANTAN PRESIDEN SOEHARTO


Siapa yang tidak kenal Soeharto? Presiden yang memimpin bangsa Indonesia selama 32 tahun ini merupakan sosok berwibawa dan mempunyai jasa besar terhadap pembangunan di Indonesia, walaupun dosanya pada bangsa ini juga besar (dikutip dari dialog dengan Alm. Gus Dur dalam acara Kik Andy)

walaupun beliau sudah lama wafat, namun cerita di balik keseharian mantan presiden RI yang dijuluki sebagai "bapak pembangunan"  ini seakan-akan tidak pernah usang untuk dibahas, Muhammad Soeharto merupakan salah seorang pria Jawa yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia. Soeharto menjadi orang nomor satu di Indonesia selama kurang lebih 32 tahun lamanya. Pak Harto lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921 silam. Pak Harto dilahirkan dari sebuah keluarga Jawa yang sederhana. Ayahnya bernama Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro dan ibunya bernama Sukirah. Sebagai seorang pria Jawa, Pak Harto menganut falsafah Jawa dalam menjalani hidupnya. Pak Harto juga menjalankan sejumlah tradisi Jawa yang dipercayainya.

Berikut empat tradisi Jawa yang dianut mantan penguasa Orde Baru itu.

GEMAR BERTAPA

Soeharto adalah penganut setia tradisi leluhurnya. Karenanya tak heran jika Pak Harto menggunakan filosofi Jawa dalam kepemimpinannya. Dalam buku 'Dunia Spiritual Soeharto', Arwan Tuti Artha, diceritakan Pak Harto banyak mengunjungi tempat-tempat keramat untuk bertapa. Ritual itu dilakukan Pak Harto untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa tunggal di Indonesia saat itu. Tempat-tempat spiritual itu beberapa di antaranya adalah; Padepokan Lang Lang Buana Gunung Srandil di Cilacap, Kali Garang, Sampangan Semarang, makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman dan lain-lain. Masyarakat di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Cilacap, mengaku sering melihat rombongan kepresidenan yang dipimpin Pak Harto mendatangi tempat pemujaan Jambe Pitu yang terdapat di desa tersebut. Penguasa Orde Baru ini selalu datang didampingi seorang guru spiritual kepercayaannya yang berasal dari Semarang yang bernama Romo Diyat.

PECINTA KERIS PUSAKA

Sebagai pria Jawa, Pak Harto sangat mencintai benda-benda pusaka. Dalam buku 'Misteri Pusaka-pusaka Soeharto' karya Ki Juru Bangunjiwo, diceritakan Pak Harto sangat mencintai benda pusaka. Keris menjadi pusaka yang paling berarti bagi Pak Harto. Makna pusaka keris sebagai piyandel dan diwujudkan dalam sifat kandel. Piyandel artinya bahwa keris merupakan sebuah keyakinan akan sebuah harapan, doa, dan cita-cita yang ditorehkan dan disimpan untuk diteruskan kepada anak cucunya. Soeharto juga meyakini, keris melambangkan pentingnya keprihatinan dalam kehidupan ini. Sehingga anugerah yang turun bukan untuk diri sendiri, tetapi bagi keturunannya.


TIDUR DI TRITISAN LUAR RUMAH

Soeharto dikenal sebagai seorang Presiden Indonesia yang mempercayai dunia mistis. Sejak kecil, Pak Harto sudah mempelajari spiritual, salah satunya dari ayah tirinya Atmopawiro. Salah satu ilmu spiritual yang dijalankan Pak Harto adalah tidur di tritisan atau di bawah ujung atap di luar rumah. Pak Harto juga rajin menjalankan puasa Senin Kamis. "Pada masa itu saya ditempa mengenal dan menyerap budi pekerti dan filsafah hidup yang berlaku di lingkungan saya. Mengenal agama dan tata cara hidup Jawa," kata Soehartodalam biografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH. Sebagai pria Jawa, Pak Harto benar-benar menghayati soal penghormatan terhadap harmoni dan keselarasan hubungan antara manusia dan alam semesta.

DEKAT DENGAN ILMU KEBATINAN

Selain menyukai benda pusaka, Pak Harto sangat mempercayai dunia kebatinan. Pak Harto percaya hubungan manusia harus harmonis dan selaras dengan alam semesta.
Dalam buku biografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, penguasa Orde Baru itu mengakui kedekatannya dengan ilmu kebatinan.
Namun, jenderal besar itu menampik jika ilmu kebatinan disamakan dengan klenik. Menurutnya, ilmu kebatinan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang Maha Esa.
"Sesuai dengan peninggalan nenek moyang kita. Ilmu kebatinan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mendekatkan batin kita kepada-Nya. Orang kadang-kadang salah kaprah, mengira ilmu kebatinan itu ilmu klenik," kata Soeharto.

0 komentar:

Poskan Komentar